Hmm,..
ternyata tidak bisa dipungkiri apa kata pepatah, ala bisa karena biasa,
terlalu lama diam bisa menyebabkan kaku,
dan akan lebih terasa saat mencoba untuk bergerak kembali,
namun tidak akan jadi masalah besar,
toh juga akan kembali terbiasa,
hanya saja butuh waktu lebih dari biasanya,
12:44 AM dini hari 21 Oktober 2013,
merenung sembari menulis apa yang sedang aku tulis saat ini,
bermaksud merayu kantuk agar tiba lebih cepat,
tentu saja tidak lupa ditemani oleh sebatang rokok terselip disela bibirku,
sesekali mata berkedip tiga kali lebih cepat dari kedipan normal,
maklum asap rokok ramai memberi perih,
tidak bosan-bosannya tulisan ini kubaca berulang kali,
hapus satu kata ganti dengan kata yang lain,
atur susunan kalimat sedemikian rupa dengan harapan kualitas tulisan bisa ditonjolkan,
entahlah,..
mungkin inilah apa yang dikatakan dengan obsesi,
obsesi untuk jadi pembual lewat susunan huruf berparagraf,
seperti mereka-mereka itu,
alhamdulillah seiring dengan bau menyengat dari filter rokokku yang sudah mulai terbakar
huruf yang tersusun pun sudah cukup padat untuk dibaca,
seakan jadi alarm untuk mengingatkanku akan kantuk yang sudah tiba,
saatnya tidur,..
besok aku harus bangun lebih pagi,
sebab pekerjaan selalu setia menunggu,..
Itu bualku, mana bualmu? Huahahahahahahahaha,...
(Moenthe Carlo)
Minggu, 29 Desember 2013
Selasa, 11 Januari 2011
Hidup Bergeser Mati
terucap untuk H.Faqih Hariman Dalimunthe...
seperti senja suasana saat kita berbincang
seakan malam tak lama lagi akan membutakan mata
23 tahun adalah waktu yang singkat
jangan ucapkan kata-kata terakhir
belum rela bila mata ini harus mencarimu dalam malam
kumohon tetap, tetap tahan senja ini
kau wasiatkan tiga kata untukku
"hidup bergeser mati"
kau pikir hati ini tenang ?
air mata ini memberikan goresan untukku
memang hatiku menerima
sebab ini adalah perjanjian antara kau dan Dia
semisal buah kelapa
ia sudah begitu masak untuk bergantung dirantingnya
kurahap esok aku masih bisa duduk bersamamu
di samping rumah, di bawah pohon rambutan
seperti di hari-hari yang lalu...
BDG 23 April 2010
(Moenthe Carlo)
seperti senja suasana saat kita berbincang
seakan malam tak lama lagi akan membutakan mata
23 tahun adalah waktu yang singkat
jangan ucapkan kata-kata terakhir
belum rela bila mata ini harus mencarimu dalam malam
kumohon tetap, tetap tahan senja ini
kau wasiatkan tiga kata untukku
"hidup bergeser mati"
kau pikir hati ini tenang ?
air mata ini memberikan goresan untukku
memang hatiku menerima
sebab ini adalah perjanjian antara kau dan Dia
semisal buah kelapa
ia sudah begitu masak untuk bergantung dirantingnya
kurahap esok aku masih bisa duduk bersamamu
di samping rumah, di bawah pohon rambutan
seperti di hari-hari yang lalu...
BDG 23 April 2010
(Moenthe Carlo)
Sepiku Rinduku

tepis-tepis segala ramai
berbincang kosong kau selip diam
telahku merona saat sanjungmu menghapus dada
katamu ini adalah mimpi
celah waktu telah kau curi untukku
lelap aku bersamanya
hati mesti tak harus berkata
berbisik sudah cukup merayu
kosong mulutmu...
menyelipkan diam
kuingin sepiku...
kuingin rinduku...
(Moenthe Carlo)
Dimana Secuil Cumbu

ramai memekik mendengung ditanggung telinga
bila saja kekosongan diantaranya mungkin
secuil cumbu hendak kusematkan didalamnya
apa kurasa...
seperti mencabik air adalah kurasa
tak sedikit memang dan tak berarti pula
entah dimana kenikmatan menyertai
ach...dimana secuil cumbu menarik hasrat
mati kutu tertindih waktu
kujamah sejauh jemari manjejaki
tidak pun ada rasa dalam belaiku
seperti hampa itu aku sebut cumbu
aku rindu sepiku rindu
hari-hari berkain waktu
mesti dihitung dan berlalu
(Moenthe Carlo)
Membekas Pagi Membisu

seperti hari ini dimulai tanpa bangun pagi
dengan secangkir kopi manis setengah hati
dan satu persatu batang rokok tersita dari bungkusnya
mengepul asap menyerang paru-paru dibalik dada
seperti nikmat telah kurasa entah itu hanya sebatas rasa
tanpa terjamah mentari
seperti mampu hari ini kujalani
entah itu bertahan hingga esok hari
angan terpicu pikiran mulai menari-nari
sedikit menggelitik namun berbekas nyeri
namun bila kurasa nyeri mampu kusapu
tak mengapa kurasa kusimpan dalam bisu
(Moenthe Carlo)
Jumat, 12 Maret 2010
Syahdu Pilu Sendu Merayu
semak berjajar ditepian kembang
kembang diranting terkulai layu
tiada kata hendak kusemat seimbang
sebab ini bukan pantun atau lagu
kiranya lidah beku bertulang
kata terucap kaku kiku sudah tentu
oh...kata-kata seketika balik bertulang
menusuk-nusuk jantung si rana pilu
sedari waktu walau sedikit mesti menghilang
menghilang bukan lenyap namun membeku
termaktub dalam buku dan tak lah pernah hilang
sedemikian esok akan dibuka dan karenanya bisa mati kutu
sekali waktu berjalan tidaklah terulang
tidak usah berniat sebab disini tiadalah hak tipu ditipu
hilang pun tersilap pasti akan dibentang
syair syahdu, pantun pilu, puisi sendu, gurindam merayu
hendak tak hendak mesti dibentang didepan yang Satu
(Moenthe Carlo)
kembang diranting terkulai layu
tiada kata hendak kusemat seimbang
sebab ini bukan pantun atau lagu
kiranya lidah beku bertulang
kata terucap kaku kiku sudah tentu
oh...kata-kata seketika balik bertulang
menusuk-nusuk jantung si rana pilu
sedari waktu walau sedikit mesti menghilang
menghilang bukan lenyap namun membeku
termaktub dalam buku dan tak lah pernah hilang
sedemikian esok akan dibuka dan karenanya bisa mati kutu
sekali waktu berjalan tidaklah terulang
tidak usah berniat sebab disini tiadalah hak tipu ditipu
hilang pun tersilap pasti akan dibentang
syair syahdu, pantun pilu, puisi sendu, gurindam merayu
hendak tak hendak mesti dibentang didepan yang Satu
(Moenthe Carlo)
Tipu Aku Mati Dusta Kutipu Hina

sepanjang jalan...
sejauh memandang...
seperti kurasa tak ingin pelan
melaju rasa ingin menendang
sesak-sesak semakin ke pinggir
rasa-rasa tipu telah kutipu mati
satu atau dua kata diucap oleh bibir
dua atau tiga didusta oleh hati
dimana entah tak terduga
kata segala seperti dusta
hasut dihasut terujung terpaksa
ujung terujung siksa di raga
hmmm...
tipu aku mati dusta kutipu hina...!!!
(Moenthe Carlo)
Lendir Busuk

hmmm...
menyengat bau lendir dari selangkanganmu
mempesona menarik birahi penikmat lendir berbau
disatu tempat yang sama kau rampungkan
desahanmu tak lagi berharga tapi tetap memikat
kau patahkan keperkasaan kegelapan
tiada kemenangan kau dapatkan
sebab mereka hanya penikmat lendir busukmu
tapi lendir busukmu telah menguncimu dalam pengasingan
lalu kau ratapi dan menangis dihadapan mereka
iba itu hadir bersama setan penghuni lubang selangkangan
lalu kau biarkan mereka meraba hatimu
itu adalah dusta...
mereka tak pernah menyentuh hatimu
racun dalam hatimu terlalu lama kau manjakan
mengalir dan terus mengalir dalam darahmu
bersambung...
(Moenthe Carlo)
Jumat, 19 Februari 2010
Kematian (Part III)
yakinilah...
bahwa kalimat-kalimat suci Tuhan
memberitakan kebenaran tentang hakikat kematian
tiada ketakutan yang dijanjikan untukku dan mereka kelak
jika berjalan diatas kefanaan ini dengan matahati yang selalu terbuka kepekaannya
lalu mengapa gemetar ini harus aku pelihara
tak perlu, sebab kematian bukanlah ketiadaan bernilai mutlak
melainkan pintu menuju rahasia-Nya
pahamilah...
to be continue...
(Moenthe Carlo)
bahwa kalimat-kalimat suci Tuhan
memberitakan kebenaran tentang hakikat kematian
tiada ketakutan yang dijanjikan untukku dan mereka kelak
jika berjalan diatas kefanaan ini dengan matahati yang selalu terbuka kepekaannya
lalu mengapa gemetar ini harus aku pelihara
tak perlu, sebab kematian bukanlah ketiadaan bernilai mutlak
melainkan pintu menuju rahasia-Nya
pahamilah...
to be continue...
(Moenthe Carlo)
Minggu, 14 Februari 2010
Kematian (Part II)
lepaskanlah...
biar ia menjadi indah tuk menghantar aku kelak
menaklukkan kerasnya hati menentang kematian
karena aku akan menepati janjiku untuk-Nya
seperti apa yang telah aku dan mereka sepakati sebelumnya
tentang hari yang abadi...
tentang masa yang abadi...
dan semoga aku dan mereka tidak salah menyadarinya...
sadarilah...
kematian bukanlah akhir dari kemenangan
kematian bukanlah akhir dari permulaan
melainkan kematian adalah pintu menuju esa-Nya
jalan memberi kepuasaan atas hausnya cinta kepada-Nya
dan aku pun tersenyum menyambut kematian seperti mereka
atas pembenahan jiwa seiring cerita kehidupan
telah aku dan mereka simpulkan kelak...
to be continue...
(Moenthe Carlo)
biar ia menjadi indah tuk menghantar aku kelak
menaklukkan kerasnya hati menentang kematian
karena aku akan menepati janjiku untuk-Nya
seperti apa yang telah aku dan mereka sepakati sebelumnya
tentang hari yang abadi...
tentang masa yang abadi...
dan semoga aku dan mereka tidak salah menyadarinya...
sadarilah...
kematian bukanlah akhir dari kemenangan
kematian bukanlah akhir dari permulaan
melainkan kematian adalah pintu menuju esa-Nya
jalan memberi kepuasaan atas hausnya cinta kepada-Nya
dan aku pun tersenyum menyambut kematian seperti mereka
atas pembenahan jiwa seiring cerita kehidupan
telah aku dan mereka simpulkan kelak...
to be continue...
(Moenthe Carlo)
Langganan:
Postingan (Atom)